Appeba

Ust. Ade Darmawan | Mengenang Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid

Ust. Ade Darmawan | Mengenang Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid

Sebelas Ramadhan…
Tanggal yang bagi sebagian orang mungkin berlalu begitu saja. Namun bagi sejarah Islam, ia adalah hari duka. Hari ketika seorang wanita agung, tiang penopang dakwah, dan cinta pertama Rasulullah ﷺ kembali ke rahmatullah.

Dialah Ummul Mukminin.
Dialah Al-Kubra — yang agung.
Dialah wanita pertama yang beriman kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Di tengah masyarakat Quraisy yang memuja harta dan kedudukan, Khadijah justru memilih jalan sunyi: jalan iman.
Ia adalah saudagar sukses, terpandang, cerdas, dan dihormati. Namun semua itu tidak membuatnya sombong. Justru kemuliaannya semakin lengkap ketika ia memilih untuk membenarkan wahyu pertama yang turun di Gua Hira.

Bayangkan suasana malam itu.
Rasulullah ﷺ pulang dengan tubuh gemetar, berkata, “Selimuti aku… selimuti aku…”
Tanpa ragu, tanpa prasangka, tanpa sedikit pun keraguan, Khadijah menenangkan beliau. Ia menguatkan, bukan mempertanyakan. Ia membenarkan, bukan meragukan.

Betapa besar perannya dalam detik-detik paling menentukan sejarah umat manusia.

Bukan hanya dengan kata-kata, ia membuktikan cintanya dengan pengorbanan nyata.
Seluruh hartanya, perniagaannya, kenyamanannya — ia serahkan untuk dakwah. Ketika kaum Quraisy melakukan pemboikotan di Syi’ib Abu Thalib, Khadijah yang telah terbiasa hidup dalam kemewahan, rela merasakan lapar, haus, dan penderitaan bersama Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.

Di lembah sempit itu, malam-malam dilalui dengan tangis anak-anak yang kelaparan.
Namun Khadijah tidak pernah mengeluh.
Ia tidak pernah berkata, “Mengapa kita harus menderita seperti ini?”
Ia tahu, perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Cintanya bukan cinta biasa. Ia adalah cinta yang berakar pada iman.

Ketika akhirnya ia wafat pada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah ﷺ sangat terpukul. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn — Tahun Kesedihan. Tidak lama sebelumnya, Abu Thalib juga wafat. Dua pelindung utama Rasulullah ﷺ pergi dalam waktu berdekatan.

Sejak saat itu, ujian demi ujian terasa semakin berat. Namun kenangan tentang Khadijah selalu menjadi pelipur lara.

Bahkan bertahun-tahun setelahnya, ketika Rasulullah ﷺ menyembelih kambing, beliau akan berkata, “Kirimkan ini kepada sahabat-sahabat Khadijah.”
Jika mendengar suara wanita yang mirip dengan suara Khadijah, hati beliau bergetar.
Dan ketika ada yang mencoba membandingkan Khadijah dengan istri-istri beliau yang lain, Rasulullah ﷺ dengan tegas membela:

“Ia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menahannya dariku.”

Betapa mulianya kesetiaan itu.

Menjelang 11 Ramadhan ini, kita seakan diajak merenung:
Sudahkah kita menjadi penolong agama Allah seperti Khadijah?
Sudahkah kita menjadi pendamping yang menguatkan, bukan melemahkan?
Sudahkah kita menjadikan iman sebagai dasar cinta dan perjuangan?

Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang mencintai karena dunia.
Namun Khadijah mengajarkan kita mencintai karena akhirat.

Namanya harum bukan karena kekayaan, tetapi karena keberanian memilih iman.
Ia tidak dikenal karena kemewahan, tetapi karena keteguhan.
Ia bukan sekadar istri Nabi, tetapi ibu bagi orang-orang beriman.

Sebelas Ramadhan bukan hanya hari mengenang wafatnya seorang wanita.
Ia adalah hari mengingat kembali arti pengorbanan.
Arti kesetiaan.
Arti cinta yang tulus karena Allah.

Semoga Allah meridhai Ummul Mukminin Khadijah Al-Kubra.
Semoga Allah menghadiahkan kepada kita hati yang seteguh dirinya.
Dan semoga kelak, di Surga-Nya, kita dipertemukan bersama wanita agung yang menjadi kebanggaan langit dan bumi.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. [MGH | 01Feb2026]

Scroll to Top